Sabtu, 09 Juni 2012

AKHLAK MULIA




Akhlak Mulia
﴿  حسن الخلق
إندونيسي

Yudi Sayidi





Terjemah : Yudi Sayidi

Editor : Yudi Sayidi








2010 - 1431






﴿  حسن الخلق
« باللغة الإندونيسية »


عبد الملك القاسم






ترجمة: محمد خير الدين
مراجعة: أبو زياد إيكو هاريانتو
















2010 - 1431



          بسم الله الرحمن الرحيم

 

AKHLAK MULIA

Abdul Malik Al-Qasim

Segala puji bagi Allah yang menciptakan segala sesuatu, membaguskan penciptaan-Nya dan menyusunnya. Dialah yang mendidik nabi kita, Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan dengan sebaik-baik pembinaan. Wa ba'du :

Sesungguhnya kemuliaan akhlak merupakan salah satu dari sifat-sifat para nabi, orang-orang shiddiq dan kalangan shalihin. Dengan sifat ini, berbagai derajat dapat dicapai dan kedudukan-kedudukannya ditinggikan. Sesungguhnya Allah Jalla wa 'Ala mengistimewakan nabi-Nya, Muhammad dengan ayat yang menghimpun baginya segala kemuliaan akhlak dan segenap kebaikan tata pekerti, maka Allah Jalla wa 'Ala berfirman :
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ ﴿٤﴾ سورة القلم
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS.68:04)

Husnul khuluq (akhlak yang mulia) memunculkan rasa kasih sayang dan kelembutan. Sedang su'ul khuluq (akhlak yang buruk) membuahkan rasa saling benci, dengki dan memusuhi.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah menstimulasi agar berakhlak mulia (husnul khuluq) dan konsisten terhadapnya. Dimana beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menghimpun secara bersama antara penyebutan at-taqwa (ketakwaan) dan penyebutan husnul khuluq (akhlak yang mulia) ini. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
« أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ ، تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ »
Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, (adalah) takwa kepada Allah dan husnul khuluq (berperilaku baik). ” (HR. At-Tirmidzi dan al-Hakim).

Husnul khuluq itu adalah wajah yang berseri, memberikan kebajikan, menahan diri dari menyakiti manusia, beserta segala yang sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk bertutur kata yang baik dan menahan amarah serta sabar menanggung beban.

Dan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mewasiatkan kepada Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu dengan sebuah wasiat agung, beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
« عَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ »
Wahai Abu Hurairah,  seyogyanya anda untuk berperilaku baik (husnul khuluq).”
Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu berkata, “Apakah husnul khuluq itu, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
« تَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ، وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ، وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ »
Anda menyambung (tali persaudaraan kepada) orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, dan anda memaafkan (kesalahan atas) orang yang menzalimimu, dan anda memberi orang yang enggan memberi kepadamu.” (HR. Al-Baihaqi).

Simaklah -wahai saudaraku yang mulia- sebuah pengaruh yang dahsyat dan ganjaran yang besar untuk pekerti yang mulia dan tabiat yang baik ini, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
« إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ الْخُلُقِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ »
Sesungguhnya seseorang dengan husnul khuluq akan memperoleh derajat ash-sha`im (ahli puasa) dan al-qa`im (ahli shalat malam).” (HR. Ahmad).

Dan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menilai amalan husnul khuluq bagian dari (barometer) kesempurnaan iman. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
« أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا »
Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Seyogyanya anda sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam :
« أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا ، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا ، وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِي الْمُسْلِمِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي الْمَسْجِدِ شَهْرًا »
Manusia yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang paling bermanfaat diantara mereka, dan amalan yang paling dicintai di sisi Allah (adalah) kebahagiaan yang anda masukkan ke (hati) seorang muslim, atau anda membebaskan kesusahannya, atau anda membayarkan hutangnya, atau anda menghilangkan rasa laparnya. Karena itu aku berjalan bersama saudaraku  yang muslim dalam suatu keperluannya lebih aku sukai daripada aku beri'tikaf di masjid (yaitu: masjid Madinah, pent.) ini sebulan lamanya .” (HR. Thabrani).

Seorang muslim diperintahkan untuk berkata halus dan lembut sehingga ucapannya tersebut menjadi amalan yang memberatkan timbangan kebajikannya. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
« الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ »
Kata baik (yang terlontar terbilang) sedekah.” (Muttafaqun 'Alaihi).

Bahkan sebuah senyuman ringan yang tidak membebani seorang muslimpun dalam melakukannya, diberikan balasan. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam :
« تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ »
Senyummu terhadap saudaramu merupakan sebuah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi).

Pengarahan-pengarahan Nabi dalam menyemangati amalan husnul khuluq ini dan sikap menanggung derita beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang banyak dan populer, serta perjalanan hidupnya merupakan contoh hidup yang dapat dipetik dari sikap beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sendiri terhadap dirinya, keluarga, tetangga, kalangan kaum muslimin yang lemah, orang-orang bodoh di antara mereka, bahkan terhadap orang kafir sekalipun. Allah Ta'ala berfirman :
وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى ﴿٨﴾ سورة المآئدة
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS.68:04)

Sesungguhnya ciri-ciri perangai yang baik (husnul khuluq) itu terhimpun dalam berbagai sifat yang banyak. Maka kenalilah ciri-ciri tersebut –wahai saudara muslimku- dan konsistenlah dengannya. Secara umum, yaitu :
Seorang yang banyak malu, sedikit menyakiti, banyak kebaikannya, jujur lisannya, sedikit bicaranya, banyak kerja, sedikit kekhilafan dan sikap berlebih-lebihannya. Seorang yang berbakti, suka memberi, berwibawa, penyabar, bersyukur, ridha, santun, lembut, menjaga diri, belas kasih. Tidak suka melaknat dan mencemooh, menghasut, ngerumpi, serta tidak tergesa-gesa, tidak pula dengki, pelit, apalagi hasad. Seseorang yang berwajah ramah dan periang, mencintai dan menyukai sesuatu karena Allah, serta membenci sesuatu karena Allah pula.

Pangkal dari segala akhlak yang tercela (al-akhlaq al-madzmumah) adalah kesombongan, penghinaan dan peremehan. Sedangkan pangkal dari segala akhlak yang terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) adalah khusyu' dan kemauan yang kuat. Maka berbangga-banggan, kufur nikmat, berpoya-poya, takjub terhadap diri sendiri, dengki, sewenang-wenang, angkuh, zhalim, kasar dan arogan, pamer, enggan menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, minta diangkat, gila kedudukan dan jabatan, dan lain sebagainya. Itu semua bersumber dari al-kibr (kesombongan).
Adapun dusta, khianat, riya, muslihat, tipu daya, kerakusan, pengecut, kebakhilan, kelemahan, kemalasan, menghinakan diri kepada selain Allah, dan sikap mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik, dan lain sebagainya. Maka semua itu bersumber dari penghinaan dan peremehan serta kerdilnya jiwa.

Sekiranya anda mencari ketakwaan, anda akan mendapati
seorang lelaki membenarkan ucapannya dengan perbuatannya.
Sekiranya seorang bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya
maka kedua tangannya diantara kemulian dan ketinggian akan ketakwaan.
Sekiranya ia mengakar dalam ketakwaan
Ada dua mahkota, mahkota ketenangan dan kebesaran
Sekiranya anda menyebutkan nasab hubungan keturunan,  maka saya tidak melihat
silsilah hubungan (yang seerat) seperti (diantara hubungan) amal-amal shaleh.

Saudara muslimku :
Sesungguhnya dia adalah momentum mulia dimana anda dapat memperoleh ganjaran berperilaku dengan sifat-sifat yang baik, dan mengarahkan diri anda untuk menggenggamnya, dan bekerja keras dalam hal tersebut. Jauhi dan tinggalkanlah sifat iri dan benci, kekejian lisan, ketidakadilan, dan ghibah, mengadu domba, kikir, memutuskan tali silaturahmi. Aku terheran terhadap orang yang membersihkan wajahnya 5 (lima) kali sehari dalam rangka menyembut seruan Allah, namun ia enggan membersihkan dirinya sekali saja dalam setahun untuk sekedar menghilangkan berbagai daki-daki dunia yang melekat, serta kepekatan hati dan kemungkaran akhlaknya !!
Berantusiaslah terhadap upaya melatih diri dari menahan amarah, dan gembirakanlah orang-orang sekitar anda, diantaranya kedua orangtua, istri dan anak-anak, para sahabat dan relasi dengan interaksi yang baik, tutur kata yang manis, muka yang berseri, dan berharaplah akan pahala pada segala hal demikian itu.

Dan seyogyanya anda –Saudara muslimku- sebagaimana yang diwasiatkan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam bahasa yang ringkas padat (al-jami'ah). Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  bersabda :
« اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ »
Bertakwalah kepada Allah dimana pun anda berada, dan ikutilah keburukan dengan kebaikan yang akan menghapusnya, dan perlakukanlah manusia dengan perlakuan yang baik.” (HR. At-Tirmidzi).

Semoga Allah menjadikan kita dan segenap kalian termasuk orang-orang yang disabdakan oleh Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam :
« إِنَّ أَقْرَبَكُمْ مِنِّى مَجْلِساً يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحْسَنُكُمْ خُلُقاً »
Sesungguhnya yang paling dekat kedudukan diantara kalian dariku pada hari Kiamat (adalah) yang paling baik akhlaknya diantara kalian.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu pengampunan, kesehatan, perlindungan selamanya. Ya Allah, baguskan akhlak-akhlak kami dan perindahilah perangai-perangai kami. Ya Allah sebagaimana Engkau telah membaguskan rupa kami, maka baguskanlah akhlak kami dengan segala karunia-Mu. Ya Rabb kami, ampunilah kami, kedua orangtua kami dan seluruh kaum muslimin. Semoga shalawat senantiasa tercurah atas Nabi kami, Muhammad, dan kepada keluarga dan segenap sahabatnya.





ADAB TERHADAP KEDUA ORANG TUA DAN GURU


AKHLAK ANAK TERHADAP ORANGTUA DAN           MURID TERHADAP GURU

Akhlak berasal dari bahasa arab yaitu alkhulq, al-khuluq yang mempunyai arti watak, tabiat. Secara istilah akhlak menurut Ibnu Maskawi adalah sesuatu keadaan bagi jiwa yang mendorong ia melakukan tindakan-tindakan dari keadaan itu tanpa melalui pikiran dan pertimbangan. Keadaan ini terbagi dua, ada yang berasal dari tabiat aslinya, ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi, pada mulanya tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan, kemudian dilakukan terus menerus, maka jadilah suatu bakat dan akhlak.

A. Akhlak terhadap orang tua

Orang tua adalah penyebab perwujudan kita. Kalaulah mereka itu tidak ada, kitapun tidak akan pernah ada. Kita tahu bahwa perwujudan itu disertai dengan kebaikan dan kenikmatan yang tak terhingga banyaknya., plus berbagi rizki yang kita peroleh dan kedudukan yang kita raih. Orang tua sering kali mengerahkan segenap jerih paya mereka untuk menghindarkan bahaya dari diri kita. Mereka bersedia kurang tidur agar kita bisa beristirahat. Mereka memberikan kesenangan-kesenangan kepada kita yang tidak bisa kita raih sendiri. Mereka memikul berbagai penderitaan dan mesti berkorban dalam bentuk yang sulit kita bayangkan.
Dengan demikian, menghardik kedua orang tua dan berbuat buruk kepada mereka tidak mungkin terjadi kecuali dari jiwa yang bengis dan kotor, berkurang dosa, dan tidak bisa diharap menjadi baik. Sebab, seandainya seseorang tahu bahwa kebaikan dan petunjuk allah mempunyai peranan yang sangat besar, tentunya siapa tahu pula bagaimana harus berbuat baik kepada orang yang semestinya diperlakukan dengan baik., bersikap mulia terhadap orang yang telah membimbing, berterima kasih kepada orang yang telah memberikan kenikmatan sebelum dia sendiri bisa mendapatkannya, dan yang telah melimpahinya dengan berbagai kebaikan yang tak mungkin bisa di balas. Orang tua adalah orang\orang yang bersedia berkorban demi anaknya, tanpa memperdulikan apa balasan yang akan diterimanya.

1. Kewajiban kepada ibu

Kalau ibu merawat jasmani dan rohaninya sejak kecil secara langsung, maka bapak pun merawatnya, mencari nafkahnya, membesarkannya, mendidiknya dan menyekolahkannya, disanping dusaha ibu. Kalau mulai menganduna sampai masa muhariq (masa dapat membedakan mana yang baik dan buruk), seorang ibu sangat berperan, maka setelah mulai memasuki masa belajar, ayah lebih tampak kewajibannya, mendidiknya dan mempertumbuhkannya menjadi dewasa, namun apabila dibandingkan antara berat tugas ibu dengan ayah, mulai mengandung sampai dewasa dan sebagaimana perasaan ibu dan ayah terhadap putranya, maka secara perbandingan, tidaklah keliru apabila dikatakan lebih berat tugas ibu dari pada tugas ayah. Coba bandingkan, banyak sekali yang tidak bisa dilakukan oleh seorang ayah terhadap anaknya, yang hanya seorang ibu saja yang dapat mengatasinya tetapi sebaliknya banyak tugas ayah yang bisa dikerjakan oleh seorang ibu. Barangkali karena demikian inilah maka penghargaan kepada ibunya. Walaupun bukan berarti ayahnya tidak dimuliakan, melainkan hendaknya mendahulukan ibu daripada mendahulukan ayahnya dalam cara memuliakan orang tua.

2. Berbuat baik kepada ibu dan ayah, walaupun keduanya lalim

Seorang anak menusut ajaran islam diwajibkan berbuat baik kepada ibu dan ayahnya, dalam keadaan bagaimanapun. Artinya jangan sampai si anak menyinggung perasaan orang tuanya, walaupun seandainya orang tua berbuat lalim kepada anaknya, dengan melakukan yang tidak semestinya, maka jangan sekali-kali si anak berbuat tidak baik, atau membalas, mengimbangi ketidakbaikan orang tua kepada anaknya, allah tidak meridhainya sehingga orang tua itu meridhainya.

Menurut ukuran secara umum, si orang tua tidak sampai akan aniaya kepada ananya. Kalaulah itu terjadi penaniayaan kepada orang tua kepada anaknya adalah disebakan perbuatan si anak itu sendiri yang menyebabkan marah dan aniayanya orang tua kepada anaknya. Didalam kasus demikian seandainya si orang tua marh kepada anaknya dan berbuat aniaya sehingga ia tiada ridha kepada anaknya, allah pun tidak meridhai si anak tersebut lantaran orang tua.

3. Berkata halus dan mulia kepada ibu dan ayah

Segala sikap orang tua terutama ibu memberikan refleksi yang kuat terhadap sikap si anak. Dalam hal berkata pun demikian. Apabila si ibu sering menggunakan kata-kata halus kepada anaknya, si anak pun akan berkata halus. Kalau si ibu atau ayah sering mempergunakan kata-kata yang kasar, si anakpun akan mempergunakan kata-kata kasar, sesuai yang digunakan oleh ibu dan ayahnya. Sebab si anak mempunyai insting menir yang lebih mudah ditiru adalah orang yang terdekat dengannya, yaitu orang tua, terutama ibunya. Agar anak berlaku lemah lembut dan sopan kepada orang tuanya, harus dididik dan diberi contoh sehari-hari oleh orang tuanya bagaimana sianak berbuat, bersikap, dan berbicara. Kewajiban anak kepada orang tuanya menurut ajaran islam harus berbicara sopan, lemah-lembut dan mempergunakan kata-kata mulia.

4. Berbuat baik kepada ibu dan ayah yang sudah meninggal dunia

Bagaimana berbuat baik seorang anak kepada ibu dan ayahnya yang sudah tiada. Dalam hal ini menurut tuntunan ajaran islam sebagaimana yang disiarkan oleh rasulullah dari Abu usaid :

Artinya : Abu usaid berkata

:”kami pernah berada pada suatu majelis bersama nabi, seorang bertanya kepada rasulullah: wahai rasulullah, apakah ada sisa kebajikan setelah keduanya meninggal dunia yang aku untuk berbuat sesuatu kebaikan kepada kedua orang tuaku. “rasulullah bersabda: ”ya, ada empat hal :mendoakan dan memintakan ampun untuk keduanya, menempati / melaksanakan janji keduanya, memuliakan teman-teman kedua orang tua, dan bersilaturrahim yang engkau tiada mendapatkan kasih sayang kecuali karena kedua orang tua.

Hadist ini menunjukkan cara kita berbuat baik kepada ibu dan ayah kita, apabila beliau-beliau itu sudah tiada yaitu:
  • Mendoakan ayah ibu yang telah tiada itu dan meminta ampun kepada allah dari segala dosa orang tua kita.
  • Menepati janji kedua ibu bapak. Kalau sewaktu hidup orang tua mempunyai janji kepada seseorang, maka anaknya harus berusaha menunaikan menepati janji tersebut. Umpamanya beliau akan naik haj, yang belum sampai melaksanakannya. Maka kewajiban anaknya menunaikan haji orang tua tersebut.
  • Memuliakan teman-teman kedua orang tua. Diwaktu hidupnya ibu atau ayah mempunyai teman akrab, ibu atau ayah saling tolong-menolong dengan temannya dalam bermasyarakat. Maka untuk berbuat kebajikan kepada kedua orang tua kita yang telah tiada, selain tersebut di atas, kita harus memuliakan teman ayah dan ibu semasa ia masih hidup.
  • Bersilalaturrahmi kepada orang yang kita mempunyai hubungan karena kedua orang tua. Maka terhadap orang yang dipertemukan oleh ayah atau ibu sewaktu masih hidup, maka hal itu termasuk berbuat baik kepada ibu dan bapak kita yang sudah meninggal dunia.
Tetapi bagaimana jikalau kita ingin berbuat baik kepada ibu dan ayah serta patuh terhadapnya, terkadang perintah yang di berikannya tidak sesuai dengan ketentuan islam.

Adapun cara menghadapi perintah kedua orang tua yang bertentanga dengan ajaran islam:
  • Jika suatu saat kamu disuruh berbohong oleh ibu atau ayah, sebaiknya katakan kepada keduanya bahwasanya allah melihat kita.
  • Jangan sekali-kali membantah perintah orang tua dengan nada kesal dan ngotot, sebab tidak akan mambuahkan hasil. Akan tetapi hadapi dengan tenang dan penuh keyakinan dan percaya diri.
  • Ayah dan ibu itu manusia biasa yang tak luput dari kesalaha dan kekurangan. Jangan posisikan kedua orang tua seperti nabi yang tak pernah berbuat salah. Maafkan mereka, bila kita anggap cara dan perintah orang tua bertentangan dari hati nurani atau nilai-nilai yang kamu yakini kebenarannya.
B. Akhlak murid terhadap guru

Guru merupakan orang yang bejasa terhadap sang murid.dengan kata lain guru merupakan orang yang mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan kepada murid diluar bimbingan orang tua dirumah,sehingga akhlakul karima terhadap guru perlu di rerapkan sebagaimana akhlak kita terhadap orang tua.

Adapun kode etik terhadap guru meliputi :

Ibn jama’ah menyusun kode etik yaitu:
  • Murid harus mengikuti guru yang dikenal baik akhlak, tinggi ilmu dan keahlian, berwibawa, santun dan penyayang. Ia tidak mengikuti guru yang tinggi ilmunya tetapi tidak saleh, tidak waras, atau tercela akhlaknya.
  • Murid harus mengikuti dan mematuhi guru. Menurut ibn jama’ah rasa hina dan kecil di depan guru merupakan pangkal keberhasilan dan kemuliaan. Ia memberikan umpama lain, yaitu penuntut ilmu ibarat orang lari dari kebodohan seperti lari dari singa ganas. Ia percaya kepada orang penunjuk jalan lari.
  • Murid harus mengagungkan guru dan meyakini kesempurnaan ilmunya. Orang yang berhasil hingga menjadi ilmuwan besar, sama sekali tidak boleh berhenti menghormati guru.
  • Murid harus mengingat hak guru atas dirinya sepanjang hayat dan setelah wafa. Ia menghormati sepanjang hidup guru, meski wafat. Murid tetap mengamalkan dan mengembangkan ajaran guru.
  • Murid bersikap sabar terhadap perlakuan kasar atau akhlak buruk guru. Hendaknya berusaha untuk memaafkan perlakuan kasar, turut memohon ampun dan bertaubat untuk guru.
  • Murid harus menunjukkan rasa berterima kasih terhadap ajaran guru. Melalui itulah ia mengetahui apa yang harus dilakukan dan dihindari. Ia memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Meskipun guru menyampaikan informasi yang sudah di ketahui murid, ia harus menunjukan rasa ingin tahu tinggi terhadap informasi.
  • Murid tidak mendatangi guru tanpa izin lebih dahulu, baik guru sedang sendiri maupun bersama orang lain. Jika telah meminta izin dan tidak memperoleh. Ia tidak boleh mengulangi minta izin. Jika ragu apakah guru mendengar suaranya, ia bisa mengulanginya paling banyak tiga kali.
  • Harus duduk sopan didepan guru. Missalnya, duduk bersila dengan tawadu’, tenang, diam, posisi duduk sedapat mungkin berhadapan dengan guru, atentif terhadap perkataan guru sehingga tidak membuat guru mengulangi perkataan. Tidak di benarkan berpaling atau menoleh tanpa keperluan jelas, terutama saat guru berbicara kepadanya.
  • Bekomunikasi dengan guru secara santun dan lemah- lembut. Ketika guru keliru baik khilaf atau karena tidak tahu, sementara murid mengetahui, ia harus menjaga perasaan agar tidak terlihat perubahan wajahnya. Hendaknya menunggu sampai guru menyadari kekeliruan. Bila setelah menunggu tidak ada indikasi guru menyadari kekeliruan, murid mengingatkan secara halus.
  • Jika guru mengungkapkan satu soal, atau kisah atau sepenggal sair yang sudah dihafal murid, ia harus tetap mendengarkan dengan antusias, seolah-olah belum pernah mendengar.
  • Murid tidak boleh menjawab pertanyaan guru meskipun mengetahui, kecuali guru memberi isyaratia memberi jawaban.
  • Murid harus mengamalkan tayamun (mengutamakan yang kanan). Ketika memberi sesuatu kepada guru. Harus menjaga sikap wajar, tidak terlalu dekat hingga jaraknya terkesan mengganggu guru. Tidak pula terlalu jauh hingga harus merentangkan tangan secara berlebihan yang mengesankan kurang serius     

    Adab & Akhlak Kepada Orang Tua dalam Hadits
    adab-akhlak-orangtua
    Pada beberapa artikel sebelumnya telah disampaikan mengenai sebagian ayat-ayat al Qur’an baik yang berhubungan dengan anak dan orang tua, berbakti kepada orang tua, kewajiban orang tua, dan lainnya. Pada artikel ini ini saya coba kutipkan beberapa hadits tentang adab dan akhlak kepada orang tua berikut ini.
    “Artinya : Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin untuk jihad. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah bapak ibumu masih hidup ?” orang itu menjawab, “Ya” maka kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Hendaklah kamu berbakti kepada keduanya” [Hadits Riwayat Bukhari, Muslim 5/2529 Abu Dawud 2529, Nasa'i, Ahmad 2/165, 188, 193, 197 dan 221]
    “Artinya : Ada yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasullullah aku berbaiat kepadamu untuk hijrah dan berjihad ingin mencari ganjaran dari Allah”. Kata Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup ?”, kata orang tersebut “Bahkan keduanya masih hidup”. “Apakah engkau mencari ganjaran dari Allah ?. “Orang itu menjawab, “Ya aku mencari ganjaran dari Allah”. “Kembali kepada kedua orang tuamu, berbuat baiklah kepada keduanya”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya pulang” [Hadits Riwayat Muslim No. 2549]
    “Artinya : Jaa?Himah Radhiyallahu ‘anhu datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ya Rasulullah aku ingin perang dan aku datang kepadamu untuk musyawarah”. Kemudian kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?”. Kata orang ini, “Ibu saya masih hidup”. Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaklah kamu tetap berbakti kepada ibumu karena sesungguhnya surga berada di kedua telapak kaki ibu” [Hadits Riwayat Nasa'i, Hakim 2/104, 4/151, Ahmad 3/329]
    “Artinya : Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu kemudian ibumu sekali lagi ibumu kemudian bapakmu kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 3, Abu Dawud No. 5139 dan Tirmidzi 1897, Hakim 3/642 dan 4/150 dari Mu'awiyah bin Haidah, Ahmad 5/3,5 dan berkata Tirmidzi, "Hadits Hasan"]
    “Artinya : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahmi kepada teman?teman bapaknya sesudah bapaknya meninggal” [Hadits Riwayat Muslim No. 12, 13, 2552]
    “Artinya : Dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: “Sholat tepat pada waktunya”, Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Berjihad di jalan Allah”. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).
    “Artinya : Diriwayatkan oleh ibnu Umar bahwasannya seorang laki?laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Apakah Ibumu masih hidup?”, berkata dia : tidak. Bersabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Kalau bibimu masih ada?”, dia berkata : “Ya” . Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Berbuat baiklah padanya”. (Diriwayatkan oleh Tirmidzi didalam Jami’nya dan berkata Al ‘Arnauth : Perawi?perawinya tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami’ul Ushul (1/ 406).